Bekas kapten tim nasional Indonesia, Ferril Raymond Hattu, menganalogikan kondisi PSSI sekarang ini ibarat ikan busuk. Kebusukan itu telah terjadi menyeluruh, mulai dari kepala hingga ekor.
"Kalau mau sehat, kepala yang busuk itu harus dipotong lebih dulu," kata Ferril kepada Tempo, Rabu (24/3).
Ferril adalah kapten tim nasional terakhir yang mempersembahkan medali emas sepak bola di ajang SEA Games Manila 1991 di bawah pelatih Anatoly Polosin. Sejak saat itu, prestasi sepak bola Indonesia di pentas yang sama selalu memble. Ferril mengaku gerah dengan kondisi persepakbolaan nasional sekarang ini. Seluruh fungsi di kepengurusan PSSI, kata dia, tidak jalan.
Dia mencontohkan kontribusi executive commitee (exco) yang tidak jelas. Ferril melihat exco diisi orang-orang oportunis yang hanya mencari keuntungan dari sepak bola. Padahal, imbuh dia, anggaran dana untuk bidang ini boleh dikatakan tidak sedikit. "Jadi, ibarat perusahaan, PSSI sudah bangkrut," ujar Ferril.
Hal lain yang disoroti Ferril adalah tidak jalannya blue print tentang peningkatan mutu sepak bola yang pernah dibuat PSSI. Di atas kertas, kata Ferril, blue print tersebut bagus. Namun dalam tataran implementasinya dianggap nol. "Ini karena PSSI tidak konsisten, mereka yang bikin aturan tapi dipelintir sendiri," kata putera pesepakbola nasional era 1960 an, JA Hattu ini.
Ferril juga prihatin dengan munculnya praktek "pemerasan" di tingkat pengurus provinsi. Salah satunya ialah adanya kewajiban bagi semua pelatih sekolah sepak bola (SSB) untuk mengikuti kursus dengan biaya Rp 4 - 6 juta. Padahal, kata dia, mereka umumnya tidak memperoleh penghasilan yang memadai dari sekolah sepak bola yang menaungi. "Pelatih SSB tidak mendapat untung, tapi untuk ikut kursus mereka harus bayar jutaan," kata Ferril.
Menurut Ferril, bila semua pemangku kepentingan sepak bola tanah air serius menginginkan perubahan, maka harus dilakukan secara radikal. Salah satunya cara, menurutnya, ialah memberangus kepengurusan di tingkat pusat. Setelah itu baru melakukan pembenahan di tataran pengurus provinsi dan pengurus cabang. "Kita butuh orang visioner untuk memimpin PSSI," ucap Ferril.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar